<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Indonesia Dulu</title>
	<atom:link href="http://indonesiadulu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesiadulu.wordpress.com</link>
	<description>Tentang Perjalanan Panjang Bangsa Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Tue, 12 Jun 2007 05:20:08 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='indonesiadulu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/abccae121da69b3e5e1d4575659cf798?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Indonesia Dulu</title>
		<link>http://indonesiadulu.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Era VOC</title>
		<link>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/12/era-voc/</link>
		<comments>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/12/era-voc/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jun 2007 05:20:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiadulu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zaman VOC]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/12/era-voc/</guid>
		<description><![CDATA[ 
Hindia-Belanda pada abad ke-17 dan 18 tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: Verenigde Oostindische Compagnie atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=30&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p> <a href="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/vereinigte_ostindische_compagnie_vocshare.jpg"><img src="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/vereinigte_ostindische_compagnie_vocshare.thumbnail.jpg" /></a></p>
<p><strong>Hindia-Belanda pada abad ke-17 dan 18</strong> tidak dikuasai secara langsung oleh pemerintah Belanda namun oleh perusahaan dagang bernama Perusahaan Hindia Timur Belanda (bahasa Belanda: <em>Verenigde Oostindische Compagnie</em> atau VOC). VOC telah diberikan hak monopoli terhadap perdagangan dan aktivitas kolonial di wilayah tersebut oleh Parlemen Belanda pada tahun 1602. Markasnya berada di Batavia, yang kini bernama Jakarta.</p>
<p>Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap <span class="new">perdagangan rempah-rempah</span> di Nusantara. Hal ini dilakukan melalui penggunaan dan ancaman kekerasan terhadap penduduk di kepulauan-kepulauan penghasil rempah-rempah, dan terhadap orang-orang non-Belanda yang mencoba berdagang dengan para penduduk tersebut. Contohnya, ketika penduduk Kepulauan Banda terus menjual <span class="new">biji pala</span> kepada pedagang Inggris, pasukan Belanda membunuh atau mendeportasi hampir seluruh populasi dan kemudian mempopulasikan pulau-pulau tersebut dengan pembantu-pembantu atau budak-budak yang bekerja di perkebunan pala.</p>
<p>VOC menjadi terlibat dalam politik internal Jawa pada masa ini, dan bertempur dalam beberapa peperangan yang melibatkan pemimpin Mataram dan Banten.</p>
<p><a name="Alur_waktu" id="Alur_waktu"></a><span class="editsection"></span><strong><span class="mw-headline">Alur waktu</span></strong></p>
<p><a name="Abad_ke-17" id="Abad_ke-17"></a><span class="editsection"></span><strong><span class="mw-headline">Abad ke-17</span></strong></p>
<ul>
<li>Maret 1602 &#8211; Belanda berusaha memonopoli perdagangan rempah-rempah dengan membentuk suatu kongsi dagang bernama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie).</li>
<li>1603 &#8211; VOC telah membangun pusat perdagangan pertama yang tetap di Banten namun tidak menguntungkan kerena persaingan dengan para pedagang Tionghoa dan Inggris.</li>
<li>Februari 1605 &#8211; Armada VOC bersekutu dengan Hitu menyerang kubu pertahanan Portugis di Ambon dengan imbalan VOC berhak sebagai pembeli tunggal rempah-rempah di Hitu.</li>
<li>1602 &#8211; <span class="new">Sir James Lancaster</span> kembali ditunjuk memimpin pelayaran yang armada berisi orang-orang The East India Company dan tiba di Aceh untuk selanjutnya menuju Banten.</li>
<li>1604 &#8211; Pelayaran yang ke-2 maskapai Inggris yang dipimpin oleh Sir Henry Middleton, maskapai ini berhasil mencapai Ternate, Tidore, Ambon dan Banda. Akan tetapi di wilayah yang mereka kunjungi ini mendapat perlawanan yang keras dari VOC.</li>
<li>1609 &#8211; VOC membuka kantor dagang di Sulawesi Selatan namun niat tersebut dihalangi oleh raja Gowa. Raja Gowa tersebut melakukan kerjasama dengan pedagang-pedagang Inggris, Prancis, Denmark, Spanyol dan Portugis.</li>
<li>1610 &#8211; Ambon dijadikan pusat VOC, dipimpin seorang-gubernur jendral. Tetapi selama 3 orang gubernur-jendral, Ambon tidak begitu memuaskan untuk dijadikan markas besar karena jauh dari jalur-jalur utama perdagangan Asia.</li>
<li>1611 &#8211; Inggris berhasil mendirikan kantor dagangnya di bagian Indonesia lainnya, di Sukadana (Kalimantan barat daya), Makassar, Jayakerta, Jepara, Aceh, Priaman, Jambi.</li>
<li>1618 &#8211; Des Banten mengambil keputusan untuk menghadapi Jayakarta dan VOC dengan memaksa Inggris untuk membantu, dipimpin laksamana Thomas Dale.</li>
<li>1619 &#8211; Ketika VOC akan menyerah pada Inggris, secara tiba-tiba muncul tentara Banten menghalangi maksud Inggris. Karena Banten tidak mau pos VOC di Batavia diisi oleh Inggris. Akibatnya Thomas Dale melarikan diri dengan kapalnya; Banten menduduki kota Batavia.</li>
<li>12 Mei 1619 &#8211; Pihak Belanda mengambil keputusan untuk memberi nama baru Jayakarta sebagai Batavia.</li>
<li>Mei 1619 &#8211; Jan Pieterszoon Coen, seorang Belanda, melakukan pelayaran ke Banten dengan 17 kapal.</li>
<li>30 Mei 1619 &#8211; Jan Pieterszoon Coen melakukan penyerangan terhadap Banten, memukul mundur tentara Banten. Membangun Batavia sebagai pusat militer dan administrasi yang relatif aman bagi pergudangan dan pertukaran barang-barang, karena dari Batavia mudah mencapai jalur-jalur perdagangan ke Indonesia bagian timur, timur jauh, dari Eropa.</li>
<li>1619 &#8211; Jan Pieterszoon Coen ditunjuk menjadi gubernur-jendral VOC. Dia menggunakan kekerasan, untuk memperkokoh kekuasaannya dia menghancurkan semua yang merintangi. Dan menjadikan Batavia sebagai tempat bertemunya kapal-kapal dagang VOC.</li>
<li>1619 &#8211; Terjadi migrasi orang Tionghoa ke Batavia. VOC menarik sebanyak mungkin pedagang Tionghoa yang ada di berbagai pelabuhan seperti Banten, Jambi, Palembang dan Malaka ke Batavia. Bahkan ada juga yang langsung datang dari Tiongkok. Di sini orang-orang Tionghoa sudah menjadi suatu bagian penting dari perekonomian di Batavia. Mereka aktif sebagai pedagang, penggiling tebu, pengusaha toko, dan tukang yang terampil.</li>
<li>1620 &#8211; Atas dasar pertimbangan diplomatik di Eropa VOC terpaksa bekerjasama dengan pihak Inggris dengan memperbolehkan Inggris mendirikan kantor dagang di Ambon.</li>
<li>1620 &#8211; Dalam rangka mengatasi masalah penyeludupan di Maluku, VOC melakukan pembuangan, pengusiran bahkan pembantaian seluruh penduduk <span class="new">Pulau Banda</span> dan berusaha menggantikannya dengan orang-orang Belanda pendatang dan mempekerjakan tenaga kerja kaum budak.</li>
<li>1623 &#8211; VOC melanggar kerjasama dengan Inggris, Belanda membunuh 12 agen perdagangan Inggris, 10 orang Inggris, 10 orang Jepang; 1 orang Portugis dipotong kepalanya.</li>
<li>1630 &#8211; Belanda telah mencapai banyak kemajuan dalam meletakkan dasar-dasar militer untuk mendapatkan hegemoni perniagaan laut di Indonesia.</li>
<li>1637 &#8211; VOC yang telah beberapa lama di Maluku tidak mampu memaksakan monopoli atas produksi pala, bunga pala, dan yang terpenting, cengkeh. Penyeludupan cengkeh semakin berkembang, muncul banyak komplotan-komplotan yang anti dengan VOC. Gubernur-Jendral Antonio van Diemen melancarkan serangan terhadap para penyeludup dan pasukan-pasukan Ternate di Hoamoal.</li>
<li>1638 &#8211; Van Diemen kembali ke Maluku dan berusaha membuat persetujuan dengan raja Ternate dimana VOC bersedia mengakui kedaulatan raja Ternate atas Seram, Hitu serta menggaji raja sebesar 4.000 real/tahun dengan imbalan bahwa penyeludupan cengkeh akan dihentikan dan VOC diberi kekuasaan <em>de facto</em> atas Maluku. Akan tetapi persetujuan ini gagal.</li>
<li>1643 &#8211; <span class="new">Arnold de Vlaming</span> mengambil kesempatan kekalahan Ternate dengan memaksa raja Ternate Mandarsyah ke Batavia dan menandatangani perjanjian yang melarang penanaman pohon cengkeh di semua wilayah kecuali Ambon atau daerah lain yang dikuasai VOC. Hal ini disebabkan pada masa itu Ambon mampu menghasilkan cengkeh melebihi kebutuhan untuk konsumsi dunia.</li>
<li>1656 &#8211; Seluruh penduduk Ambon yang tersisa dibuang. Semua tanaman rempah-rempah di Hoamoal dimusnahkan dan akibatnya daerah tersebut tidak didiami manusia kecuali jika ekspedisi Hongi (armada tempur) melintasi wilayah itu untuk mencari pohon-pohon cengkeh liar yang harus dimusnahkan.</li>
<li>1660 &#8211; Armada VOC yang terdiri dari 30 kapal menyerang Gowa, menghancurkan kapal-kapal Portugis.</li>
<li>Agustus-Desember 1660 &#8211; Sultan Hasanuddin, raja Gowa dipaksa menerima persetujuan perdamaian dengan VOC, namun persetujuan ini tidak berhasil mengakhiri permusuhan.</li>
<li>18 November 1667 &#8211; Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani perjanjian Bongaya, akan tetapi Hasanuddin kembali mengobarkan pertempuran.</li>
<li>April 1668 dan Juni 1669 &#8211; VOC melakukan serangan besar-besaran terhadap Goa dan setelah pertempuran ini perjanjian Bongaya benar-benar dilakukan.</li>
<li>1669 &#8211; Kondisi keadaan Nusantara bagian timur bertambah kacau, kehidupan ekonomi dan administrasi tidak terkendalikan lagi.</li>
<li>1670 &#8211; VOC telah berhasil melakukan konsolidasi kedudukannya di Indonesia Timur. Pihak Belanda masih tetap menghadapi pemberontakan-pemberontakan tetapi kekuatannya tidak begitu besar.</li>
<li>1670 &#8211; VOC menebangi tanaman rempah-rempah yang tidak dapat diawasi, Hoamoal tidak dihuni lagi, orang Bugis dan Makassar meninggalkan kampung halamannya. Banyak orang-orang Eropa dan sekutu-sekutu yang tewas, semata-mata guna mencapai tujuan VOC untuk memonopoli rempah-rempah.</li>
<li>1674 &#8211; Pulau Jawa dalam keadaan yang memprihatinkan, kelaparan merajalela, berjangkit wabah penyakit, gunung merapi meletus, gempa bumi, gerhana bulan, dan hujan yang tidak turun pada musimnya.</li>
<li>1680 &#8211; Di Jawa Barat, kerajaan Banten pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa mengalami masa kejayaannya, Banten memiliki suatu armada yang dibangun menurut model Eropa. Kapal-kapalnya berlayar memakai surat jalan menyelenggarakan perdagangan yang aktif di Nusantara. Atas bantuan pihak Inggris, Denmark, Tiongkok orang-orang Banten dapat berdagang dengan Persia, India, Siam, Vietnam, Tiongkok, Filipina dan Jepang. Banten merupakan penghasil lada yang sangat kaya.</li>
<li>1680 &#8211; VOC pada dasarnya hanya terbatas menguasai dataran-dataran rendah tertentu saja di Jawa. daerah pegunungan seringkali tidak berhasil dikuasai dan daerah ini dijadikan tempat persembunyian pemberontak. Tidak dapat dihindarkan lagi pemberontakan-pemberontakan mengakibatkan kesulitan dan menguras dana VOC.</li>
<li>1682 &#8211; Pasukan VOC dipimpin Francois Tack dan Isaac de Saint Martin berlayar menuju Banten guna menguasai perdagangan di Banten. VOC merebut dan memonopoli perdagangan lada di Banten. Orang-orang Eropa yang merupakan saingan VOC diusir. Orang-orang Inggris mengundurkan diri ke Bengkulu dan Sumatera Selatan satu-satunya pos mereka yang masih ada di Indonesia.</li>
<li>1683-1710 &#8211; VOC mengalami masalah keuangan yang sangat berat di wilayah Asia selama kurun waktu tersebut. Di antara 23 kantornya hanya tiga (Jepang, Surat dan Persia) yang mampu memberikan keuntungan; sembilan menunjukkan kerugian setiap tahun termasuk Ambon, Banda, Ternate, Makassar, Banten, Cirebon dan wilayah pesisir Jawa. VOC banyak mengeluarkan biaya-biaya yang sangat tinggi akibat pemberontakan di samping pengeluaran pribadi VOC yang tidak efesien, kebejatan moral, korupsi yang merajalela. VOC juga menuntut semakin banyak kepada rakyat Jawa, yang mengakibatkan pemberontakan yang terus berlanjut dan pengeluaran VOC bertambah tinggi.</li>
<li>1684 &#8211; Gubernur-Jendral Speelman meninggal. Terbongkarlah korupsi dan penyalah gunaan kekuasaan. Konon Speelman memerintah tanpa menghiraukan nasihat Dewan Hindia dan banyak melakukan pembayaran dengan uang VOC yang pada dasarnya tidak pernah ada untuk pekerjaan yang tidak pernah dilakukan. Selama masa kekuasaan Speelmen jumlah penjualan tekstil menurun 90%, monopoli candu tidak efektif. Speelman juga banyak melakukan penggelapan uang negara dan pada 1685 semua penunggalan Speelman disita negara.</li>
<li>8 Februari 1686 &#8211; Dengan tipu muslihat Surapati berhasil membunuh François Tack dalam suatu pertempuran. Tack tewas dengan dua puluh luka di tubuhnya.</li>
<li>1690 &#8211; Belanda berusaha membalas kekalahan yang dialami Tack tetapi gagal karena Surapati menguasai teknik-teknik militer Eropa dengan baik.</li>
</ul>
<p><a name="Abad_ke-18" id="Abad_ke-18"></a><span class="editsection"></span><strong><span class="mw-headline">Abad ke-18</span></strong></p>
<ul>
<li>1702 &#8211; Jumlah kekuatan serdadu militer Belanda yang berkebangsaan Eropa hanya tinggal sedikit. Administrasi VOC kacau balau</li>
<li>1706 &#8211; Surapati terbunuh di Bangil.</li>
<li>1721 &#8211; VOC mengumumkan apa yang dinamakan komplotan orang-orang Islam yang bermaksud melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Eropa di Batavia dan juga orang-orang Tionghoa.</li>
<li>1722 &#8211; Perlakuan terhadap orang-orang Tionghoa bertambah kejam dan korup. Walaupun demikian jumlah orang Tionghoa bertambah dengan pesat. VOC melakukan sistem kuota untuk membatasi imigrasi, tetapi kapten-kapten kapal Tionghoa mampu menghindarinya dengan bantuan dari pejabat VOC yang korupsi. Kebanyakan orang-orang Tionghoa pendatang yang tidak memperoleh pekerjaan sebagian besar mereka bergabung menjadi gerombolan-gerombolan penjahat di sekitar Batavia.</li>
<li>1727 &#8211; Posisi ekonomi orang Tionghoa makin penting di satu pihak dan sering terjadinya kejahatan oleh orang Tionghoa, menimbulkan perasaan tidak senang terhadap orang Tionghoa. Rasa tidak senang menjadi semakin tebal di kalangan warga bebas, kolonis-kolonis Belanda yang tidak dapat menandingi orang Tionghoa. Timbullah kemudian rasa permusuhan dan sikap rasialis terhadap orang Tionghoa.</li>
<li>1727 &#8211; Pemerintah kolonial Belanda mengeluarkan peraturan bahwa semua orang Tionghoa yang telah tinggal 10 sampai 12 tahun di Batavia dan belum memiliki surat izin akan dikembalikan ke Tiongkok.</li>
<li>1729 &#8211; Pemerintah kolonial memberikan kesempatan selama 6 bulan kepada orang Tionghoa untuk mengajukan permohonan izin tinggal di Batavia dengan membayar 2 ringgit.</li>
<li>1730 &#8211; Dikeluarkan larangan bagi orang Tionghoa untuk membuka tempat penginapan, tempat pemadatan candu dan warung baik di dalam maupun di luar kota.</li>
<li>1736 &#8211; Pemerintah kolonial mengadakan pendaftaran bagi semua orang Tionghoa yang tidak memiliki surat izin tinggal.</li>
<li>1740 &#8211; Terdapat 2.500 rumah orang Tionghoa di dalam tembok Batavia sedangkan jumlah orang Tionghoa di kota dan daerah sekitarnya diperkirakan 15.000 jiwa. Jumlah ini setidak-tidaknya merupakan 17% dari keseluruhan penduduk di daerah terebut. Ada kemungkinan bahwa orang-orang Tionghoa sebenarnya merupakan unsur penduduk yang lebih besar jumlahnya. Ada pula orang-orang Tionghoa di kota-kota pelabuhan Jawa dan Kartasura walaupun jumlahnya hanya sedikit.</li>
<li>1740 &#8211; Terjadi penangkapan terhadap orang Tionghoa, tidak kurang 1.000 orang Tionghoa dipenjarakan. Orang Tionghoa menjadi gelisah lebih-lebih setelah sering terjadi penangkapan, penyiksaan, dan perampasan hak milik Tionghoa.</li>
<li>4 Februari 1740 &#8211; Segerombolan orang Tionghoa melakukan pemberontakan dan penyerbuan pos penjagaan untuk membebaskan bangsanya yang ditahan.</li>
<li>Juni 1740 &#8211; Kompeni Belanda mengeluarkan lagi peraturan bahwa semua orang Tionghoa yang tidak memiliki izin tinggal akan ditangkapdan diangkut ke Sailan. Peraturan ini dilaksanakan dengan sewenang-wenang.</li>
<li>September 1740 &#8211; Tersiar berita bahwa segerombolan orang Tionghoa di daerah pedesaan sekitar Batavia bergerak mendekati pintu gerbang Batavia. Mr. Cornelis di Tangerang dan de Qual di Bekasi, memerintahkan memperkuat pos-pos penjagaan.</li>
<li>7 Oktober 1740 &#8211; Pasukan bantuan yang dikirim ke Tangerang oleh pemerintah kolonial diserang oleh gerombolan Tionghoa, sebagian besar dari pasukan tersebut tewas.</li>
<li>Oktober 1740 &#8211; Berdasarkan bukti yang didapatkan VOC menarik kesimpulan bahwa orang-orang Tionghoa sedang merencanakan sebuah pemberontakan.</li>
<li>8 Oktober 1740 &#8211; Kompeni Belanda mengeluarkan maklumat, antara lain perintah menyerahkan senjata kepada kompeni. Jam malam diadakan.</li>
<li>9 Oktober 1740 &#8211; Dimulainya pembunuhan terhadap orang Tionghoa secara besar-besaran. Yang banyak melakukan pembunuhan ini adalah orang-orang Eropa dan para budak. Dan pada akhirnya ada sekitar 10.000 orang Tionghoa yang tewas. Perkampungan orang Tionghoa dibakar selama beberapa hari. Kekerasan ini berhenti setelah orang Tionghoa memberikan uang premi kepada serdadu-serdadu VOC guna melakukan tugasnya yang rutin.</li>
<li>10 Oktober 1740 &#8211; Pertahanan kompeni Belanda di Tangerang diserang oleh sekitar 3.000 orang pemberontak Tionghoa.</li>
<li>Mei 1741 &#8211; Orang-orang Tionghoa yang berhasil lolos dari pembantaian di Batavia melarikan diri ke arah timur menyusur sepanjang daerah pesisir. Mereka melakukan perebutan pos di Juwana. Markas besar VOC dikepung dan pos-pos lainnya terancam.</li>
<li>Juli 1741 &#8211; Pos VOC di Rembang dihancurkan oleh orang-orang Tionghoa yang membantai seluruh personel VOC.</li>
<li>Juli 1741 &#8211; Prajurit raja yang berada di Kartasura menyerang pos garnisun VOC. Komandan VOC Kapten Johannes van Velsen dan beberapa serdadu lainnya tewas. Serdadu yang selamat ditawari pilihan beralih ke agama Islam atau mati dan banyak yang memilih pindah agama.</li>
<li>November 1741 &#8211; <span class="new">Pakubuwana II</span> mengirim pasukan artileri ke Semarang. Pasukan prajurit-prajurit tersebut bersatu dengan orang Tionghoa melakukan pengepungan terhadap pos VOC. Pos VOC di Semarang ini dikepung oleh kira-kira 20.000 orang Jawa dan 3.500 orang Tionghoa dengan 30 pucuk meriam. Orang Jawa dan Tionghoa bersatu melawan kompeni Belanda.</li>
<li>Desember 1741-awal 1742 &#8211; VOC merebut kembali daerah-daerah lain yang terancam serangan.</li>
<li>13 Februari 1755 &#8211; VOC menandatangani Perjanjian Giyanti. Isinya VOC mengakui Mangkubumi sebagai Sultan Hamengkubuwana I, penguasa separuh wilayah Jawa Tengah.</li>
<li>September 1789 &#8211; Belanda mendengar desas-desus bahwa raja Jawa akan melakukan pembunuhan terhadap orang-orang Eropa, sehingga mengutus seorang residen yang bernama Andries Hartsick dengan memakai pakaian Jawa menghadiri pertemuan rahasia di Istana Jawa.</li>
<li>1 Januari 1800 &#8211; VOC secara resmi dibubarkan, didirikan Dewan untuk urusan jajahan Asia. Belanda kalah perang dan dikuasai Perancis. Wilayah-wilayah yang dimiliki Belanda menjadi milik Perancis.</li>
</ul>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiadulu.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiadulu.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiadulu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiadulu.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiadulu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiadulu.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiadulu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiadulu.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiadulu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiadulu.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiadulu.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiadulu.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=30&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/12/era-voc/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9de7c341a6ef6f2cb7002ebf0806056?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia dulu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/vereinigte_ostindische_compagnie_vocshare.thumbnail.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Era Portugis 1531 &#8211; 1550</title>
		<link>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/12/era-portugis-1531-1550/</link>
		<comments>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/12/era-portugis-1531-1550/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jun 2007 02:10:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiadulu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zaman Kolonialisme ( Portugis )]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/12/era-portugis-1531-1550/</guid>
		<description><![CDATA[1531-1540

1536

Serangan besar Portugis terhadap Johore.
Antonio da Galvão menjadi gubernur di pos Portugis di Ternate; mendirikan pos Portugis di Ambon.
Portugis membawa Sultan Tabariji dari Ternate ke Goa karena mencurigainya melakukan kegiatan-kegiatan anti Portugis activity, menggantikannya dengan saudara-saudaranya.




1537

Serangan Aceh atas Melaka gagal. Salahuddin dari Aceh digantikan oleh Alaudin Riayat Syah I.




1539

Aceh menyerang suku Batak di selatan mereka.




1540

Portugis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=29&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3><span class="mw-headline">1531-1540</span></h3>
<ul>
<li>1536
<ul>
<li>Serangan besar Portugis terhadap Johore.</li>
<li>Antonio da Galvão menjadi gubernur di pos Portugis di Ternate; mendirikan pos Portugis di Ambon.</li>
<li>Portugis membawa Sultan Tabariji dari Ternate ke Goa karena mencurigainya melakukan kegiatan-kegiatan anti Portugis activity, menggantikannya dengan saudara-saudaranya.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1537
<ul>
<li>Serangan Aceh atas Melaka gagal. Salahuddin dari Aceh digantikan oleh Alaudin Riayat Syah I.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1539
<ul>
<li>Aceh menyerang suku Batak di selatan mereka.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1540
<ul>
<li>Portugis berhubungan dengan Gowa.</li>
<li>Kesultanan Butung didirikan.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><a title="1541-1550" name="1541-1550"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">1541-1550</span></h3>
<ul>
<li>1545
<ul>
<li>Demak menaklukkan Malang.Gowa membangun benteng di Ujung Pandang.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1546
<ul>
<li>Demak menyerang Balambangan namun gagal.</li>
<li>Trenggono dari Demak meninggal dan digantikan oleh Prawata. Menantunya, Joko Tingkir memperluas pengaruhnya dari Pajang (dekat Sukoharjo sekarang).</li>
<li>St. Fransiskus Xaverius pergi ke Morotai, Ambon, dan Ternate.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1547
<ul>
<li>Aceh menyerang Melaka.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1550
<ul>
<li>Portugis mulai membangun benteng-benteng di Flores.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiadulu.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiadulu.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiadulu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiadulu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiadulu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiadulu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiadulu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiadulu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiadulu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiadulu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiadulu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiadulu.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=29&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/12/era-portugis-1531-1550/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9de7c341a6ef6f2cb7002ebf0806056?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia dulu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Era Portugis 1521 &#8211; 1530</title>
		<link>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/09/era-portugis-1521-1530/</link>
		<comments>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/09/era-portugis-1521-1530/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jun 2007 04:19:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiadulu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zaman Kolonialisme ( Portugis )]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/09/era-portugis-1521-1530/</guid>
		<description><![CDATA[
Photo : Benteng Portugis di Melaka

1521

Yunus memimpin armada dari Demak dan Cirebon melawan orang-orang Portugis di Melaka. Yunus terbunuh dalam pertempuran. Trenggono menjadi Sultan Demak.
Portugis merebut Pasai di Sumatra; Gunungjati meninggalkan Pasai berangkat ke Mekkah.
Kapal terakhir dari ekspedisi Magelhaenz mengeliling dunia berlayar antarapulau Lembata dan Pantar di Nusa Tenggara.




1522

Februari ekspedisi Portugis di bawah De Brito [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=27&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/melaka1.jpg"><img src="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/melaka1.thumbnail.jpg" /></a></p>
<p>Photo : Benteng Portugis di Melaka</p>
<ul>
<li>1521
<ul>
<li>Yunus memimpin armada dari Demak dan Cirebon melawan orang-orang Portugis di Melaka. Yunus terbunuh dalam pertempuran. Trenggono menjadi Sultan Demak.</li>
<li>Portugis merebut Pasai di Sumatra; Gunungjati meninggalkan Pasai berangkat ke Mekkah.</li>
<li>Kapal terakhir dari ekspedisi Magelhaenz mengeliling dunia berlayar antarapulau Lembata dan Pantar di Nusa Tenggara.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1522
<ul>
<li>Februari ekspedisi Portugis di bawah De Brito tiba di Banda.</li>
<li>Mei, ekspedisi De Brito tiba di Ternate, membangung sebuah benteng Portugis.</li>
<li>Banten, yang masih beragama Hindu, meminta bantuan Portugis dalam menghadapi Demak yang Muslim.</li>
<li>Sisa-sisa ekspedisi Magelhaenz berkeliling dunia mengunjungi Timor.</li>
<li>Portugis membangun benteng di Hitu, Ambon.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1523
<ul>
<li>Gunungjati kembali dari Mekkah dan menetap di Demak, menikahi saudara perempuan Sultan Trenggono.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1524
<ul>
<li>Gunungjati dan anaknya Hasanuddin melakukan dakwah secara terbuka dan rahasia di Jawa Barat untuk memperlemah Kerajaan Pajajaran dan persekutuannya dengan Portugis. Pemerintah lokal di Banten, yang tadinya tergantung pada Pajajaran, masuk Islam dan bergabung dengan pihak Demak.</li>
<li>Aceh merebut Pasai dan Pedir di Sumatra utara.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1525
<ul>
<li>Hasanuddin, anak dari Gunungjati, melakukan dakwah di Lampung.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1526
<ul>
<li>Portugis membangun benteng pertama di Timor.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1527
<ul>
<li>Demak menaklukkan Kediri, sisa-sisa Hindu dari kerajaan Majapahit; Sultan-sultan Demak mengklaim sebagai pengganti Majapahit; Sunan Kudus ikut serta.</li>
<li>Demark merebut Tuban.</li>
<li>Demak, dengan bantuan dari Banten, merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran; mengganti namanya menjadi Jayakarta. (Sukses ini dikatakan berkat pimpinan &#8220;Fatahillah&#8221;—atau, sesuai dengan kekeliruan ucapan Portugis, &#8220;Falatehan&#8221;—namun mungkin ini adalah nama yang diberikan kepada Sunan Gunungjati.) Kerajaan Pajajaran didorong ke pedalaman dari daerah pesisir.</li>
<li>Kerajaan Palakaran di Madura, yang berbasis di Arosbaya (kini Bangkalan), menjadi Islam di bawah Kyai Pratanu.</li>
<li>Ekspedisi dari Spanyol dan Meksiko berusaha mengusir Portugis dari Maluku.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1529
<ul>
<li>Demak menaklukkan Madiun.</li>
<li>Raja-raja Spanyol dan Portugal sepakat bahwa Maluku harus menjadi milik Portugal, dan Filipina menjadi milik Spanyol.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1530
<ul>
<li>Salahuddin menjadi Sultan Aceh.</li>
<li>Surabaya dan Pasuruan takluk kepada Demak. Demak merebut Balambangan, kerajaan Hindu terakhir di ujung timur Jawa.</li>
<li>Gowa mulai meluas dari dari Makassar.</li>
<li>Banten memperluas pengaruhnya atas Lampung.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiadulu.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiadulu.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiadulu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiadulu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiadulu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiadulu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiadulu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiadulu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiadulu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiadulu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiadulu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiadulu.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=27&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/09/era-portugis-1521-1530/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9de7c341a6ef6f2cb7002ebf0806056?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia dulu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/melaka1.thumbnail.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Era Portugis 1509 &#8211; 1520</title>
		<link>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/08/era-portugis/</link>
		<comments>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/08/era-portugis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Jun 2007 06:54:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiadulu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zaman Kolonialisme ( Portugis )]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/08/era-portugis/</guid>
		<description><![CDATA[ 
The gate to the Portuguese fortress at Melaka. Melaka was the center of the Portuguese trade empire in the Indies in the 1500s
1509-1520

1509

Portugis tiba pertama kali di Melaka.




1511

April, Admiral Portugis Alfonso de Albuquerque memutuskan berlayar dari Goa ke Melaka.
10 Agustus, Pasukan Albuquerque menguasai Melaka.
Sultan Melaka melarikan diri ke Riau.
Portugis di Melaka menghancurkan armada Jawa. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=25&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h3> <a href="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/melaka.jpg"><img src="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/melaka.thumbnail.jpg" /></a></h3>
<p><em>The gate to the Portuguese fortress at Melaka. Melaka was the center of the Portuguese trade empire in the Indies in the 1500s</em></p>
<p><strong><span class="mw-headline">1509-1520</span></strong></p>
<ul>
<li>1509
<ul>
<li>Portugis tiba pertama kali di Melaka.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1511
<ul>
<li>April, <span class="new">Admiral</span> Portugis Alfonso de Albuquerque memutuskan berlayar dari Goa ke Melaka.</li>
<li>10 Agustus, Pasukan Albuquerque menguasai Melaka.</li>
<li>Sultan Melaka melarikan diri ke Riau.</li>
<li>Portugis di Melaka menghancurkan armada Jawa. Kapal mereka karam dengan seluruh hartanya dalam perjalanan kembali ke Goa.</li>
<li><span class="new">Patih Yunus</span> menaklukkan Jepara</li>
<li>Desember, Albuquerque mengirim tiga kapal di bawah <span class="new">Antonio de Abreu</span> dari Melaka untuk menjelajah ke arah Timur.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1512
<ul>
<li>Perjalanan ekspedisi De Abreu dari Melaka menuju Madura, Bali, Lombok, <span class="new">Aru</span> dan Banda. Dua kapal rusak di Banda. Da Breu kembali ke Melaka; <span class="new">Francisco Serrão</span> memperbaiki kapal dan melanjutkan menuju ke Ambon, Ternate, dan Tidore. Serrão menawarkan dukungan bagi Ternate dalam perselisihannya dengan Tidore, pasukannya mendirikan sebuah pos Portugis di Ternate.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1513
<ul>
<li>Pasukan dari Jepara dan Palembang menyerang Portugis di Melaka, tetapi berhasil dipukul mundur.</li>
<li>Maret, Portugis mengirim seorang duta menemui Raja Pajajaran. Portugis diizinkan untuk membangun sebuah benteng di Sunda Kelapa (sekarang Jakarta).</li>
<li>Portugis menghubungi <span class="new">Raja Udara</span>, anak dari Girindrawardhana dan penguasa bekas kerajaan Majapahit</li>
<li>Portugis membangun pabrik-pabrik di Ternate dan Bacan.</li>
<li>Udara menyerang Demak dengan bantuan dari Raja Klungkung dari Bali. Pasukan Majapahit dipukul mundur, tapi <span class="new">Sunan Ngudung</span> tewas dalam pertempuran. Banyak pendukung Majapahit melarikan diri ke Bali.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1514
<ul>
<li><span class="new">Ali Mughayat Syah</span> mendirikan Kesultanan Aceh, dan menjadi Sultan Aceh pertama.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1515
<ul>
<li>Portugis pertama kali tiba di Timor.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1518
<ul>
<li><span class="new">Sultan Mahmud</span> dari Melaka mengambil alih kekuasaan di <span class="new">Johore</span>.</li>
<li>Raden Patah meninggal dunia; Patih Yunus menjadi Sultan Demak.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<ul>
<li>1520
<ul>
<li>Aceh mulai menguasai pantai timur laut Sumatra.</li>
<li>Rakyat Bali menyerang Lombok.</li>
<li>Para pedagang Portugis mulai mengunjungi Flores dan <span class="new">Solor</span>.</li>
<li>Banjar di Kalimantan menjadi Islam.</li>
</ul>
</li>
</ul>
<p><em>dari berbagai sumber</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiadulu.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiadulu.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiadulu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiadulu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiadulu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiadulu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiadulu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiadulu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiadulu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiadulu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiadulu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiadulu.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=25&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/08/era-portugis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9de7c341a6ef6f2cb7002ebf0806056?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia dulu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/melaka.thumbnail.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kesultanan Perlak</title>
		<link>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/07/kesultanan-perlak/</link>
		<comments>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/07/kesultanan-perlak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Jun 2007 04:07:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiadulu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zaman Kerajaan Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/07/kesultanan-perlak/</guid>
		<description><![CDATA[Kesultanan Perlak adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292. Perlak atau Peureulak terkenal sebagai suatu daerah penghasil kayu perlak, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama Negeri Perlak. Hasil alam dan posisinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=24&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Kesultanan Perlak</strong> adalah kerajaan Islam di Indonesia yang berkuasa di sekitar wilayah Peureulak, Aceh Timur, Aceh sekarang antara tahun 840 sampai dengan tahun 1292. <strong>Perlak</strong> atau <strong>Peureulak</strong> terkenal sebagai suatu daerah penghasil <span class="new">kayu perlak</span>, jenis kayu yang sangat bagus untuk pembuatan kapal, dan karenanya daerah ini dikenal dengan nama <em>Negeri Perlak</em>. Hasil alam dan posisinya yang strategis membuat Perlak berkembang sebagai pelabuhan niaga yang maju pada abad ke-8, disinggahi oleh kapal-kapal yang antara lain berasal dari Arab dan Persia. Hal ini membuat berkembangnya masyarakat Islam di daerah ini, terutama sebagai akibat <span class="new">perkawinan campur</span> antara <span class="new">saudagar</span> muslim dengan perempuan setempat.<span class="mw-headline"></span></p>
<p><strong><span class="mw-headline">Perkembangan dan pergolakan</span></strong></p>
<p>Sultan pertama Perlak adalah Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah, yang beraliran Syiah dan merupakan keturunan Arab dengan perempuan setempat, yang mendirikan Kesultanan Perlak pada 1 Muharram 225 H (840 M). Ia mengubah nama ibukota kerajaan dari Bandar Perlak menjadi Bandar Khalifah.</p>
<p>Pada masa pemerintahan sultan ketiga, Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah, aliran Sunni mulai masuk ke Perlak. Setelah wafatnya sultan pada tahun 363 H (913 M), terjadi perang saudara antara kaum Syiah dan Sunni sehingga selama dua tahun berikutnya tak ada sultan.</p>
<p>Kaum Syiah memenangkan perang dan pada tahun 302 H (915 M), Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah dari aliran Syiah naik tahta. Pada akhir pemerintahannya terjadi lagi pergolakan antara kaum Syiah dan Sunni yang kali ini dimenangkan oleh kaum Sunni sehingga sultan-sultan berikutnya diambil dari golongan Sunni.</p>
<p>Pada tahun 362 H (956 M), setelah meninggalnya sultan ketujuh, Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat, terjadi lagi pergolakan selama kurang lebih empat tahun antara Syiah dan Sunni yang diakhiri dengan perdamaian dan pembagian kerajaan menjadi dua bagian:</p>
<ul>
<li>Perlak Pesisir (Syiah) dipimpin oleh Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah (986 – 988)</li>
<li>Perlak Pedalaman (Sunni) dipimpin oleh Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat (986 – 1023)</li>
</ul>
<p>Sultan Alaiddin Syed Maulana Shah meninggal sewaktu Kerajaan Sriwijaya menyerang Perlak dan seluruh Perlak kembali bersatu di bawah pimpinan Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat yang melanjutkan perjuangan melawan Sriwijaya hingga tahun 1006.</p>
<p><a name="Penggabungan_dengan_Samudera_Pasai" id="Penggabungan_dengan_Samudera_Pasai"></a><span class="editsection"></span><strong><span class="mw-headline">Penggabungan dengan Samudera Pasai</span></strong></p>
<p>Sultan ke-17 Perlak, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (memerintah 1230 – 1267) menjalankan politik persahabatan dengan menikahkan dua orang putrinya dengan penguasa negeri tetangga Perlak:</p>
<ul>
<li>Putri Ratna Kamala, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Malaka, Sultan Muhammad Shah (Parameswara).</li>
<li>Putri Ganggang, dikawinkan dengan Raja Kerajaan Samudera Pasai, Al Malik Al-Saleh.</li>
</ul>
<p>Sultan terakhir Perlak adalah sultan ke-18, Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (memerintah 1267 – 1292). Setelah ia meninggal, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudera Pasai di bawah pemerintahan sultan Samudera Pasai, Sultan Muhammad Malik Al Zahir, putra Al Malik Al-Saleh.</p>
<p><a name="Daftar_Sultan_Perlak" id="Daftar_Sultan_Perlak"></a><span class="editsection"></span><strong><span class="mw-headline">Daftar Sultan Perlak</span></strong></p>
<p>Sultan-sultan Perlak dapat dikelompokkan menjadi dua dinasti: dinasti Syed Maulana Abdul Azis Shah dan dinasti Johan Berdaulat. Berikut daftar sultan yang pernah memerintah Perlak.</p>
<ol>
<li>Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Azis Shah (840 – 864)</li>
<li>Sultan Alaiddin Syed Maulana Abdul Rahim Shah (864 – 888)</li>
<li>Sultan Alaiddin Syed Maulana Abbas Shah (888 – 913)</li>
<li>Sultan Alaiddin Syed Maulana Ali Mughat Shah (915 – 918)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Kadir Shah Johan Berdaulat (928 – 932)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah Johan Berdaulat (932 – 956)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Malik Shah Johan Berdaulat (956 – 983)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ibrahim Shah Johan Berdaulat <sup>[1]</sup> (986 – 1023)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1023 – 1059)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mansur Shah Johan Berdaulat (1059 – 1078)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdullah Shah Johan Berdaulat (1078 – 1109)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Ahmad Shah Johan Berdaulat (1109 – 1135)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Mahmud Shah Johan Berdaulat (1135 – 1160)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Usman Shah Johan Berdaulat (1160 – 1173)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Shah Johan Berdaulat (1173 – 1200)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Abdul Jalil Shah Johan Berdaulat (1200 – 1230)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Muhammad Amin Shah II Johan Berdaulat (1230 – 1267)</li>
<li>Sultan Makhdum Alaiddin Malik Abdul Aziz Johan Berdaulat (1267 – 1292)</li>
</ol>
<p><em>sumber dari wikipedia indonesia</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiadulu.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiadulu.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiadulu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiadulu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiadulu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiadulu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiadulu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiadulu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiadulu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiadulu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiadulu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiadulu.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=24&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/07/kesultanan-perlak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9de7c341a6ef6f2cb7002ebf0806056?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia dulu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Sriwijaya</title>
		<link>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/06/kerajaan-sriwijaya/</link>
		<comments>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/06/kerajaan-sriwijaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jun 2007 04:31:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiadulu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zaman Kerajaan Hindu-Budha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/06/kerajaan-sriwijaya/</guid>
		<description><![CDATA[
Kerajaan Sriwijaya berpusat di daerah yang sekarang dikenal sebagai Palembang di Sumatra. Pengaruhnya amat besar meliputi Indonesia, Semenanjung Malaysia dan Filipina.
Kekuasaan Sriwijaya merosot pada abad ke-11. Kerajaan Sriwijaya mulai ditaklukkan oleh berbagai kerajaan Jawa, pertama oleh kerajaan Singosari (Singhasari) dan akhirnya oleh kerajaan Majapahit.
Malangnya, sejarah Asia Tenggara tidak didokumentasikan dengan baik. Sumber sejarahnya berdasarkan laporan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=16&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/sriwijaya.jpg" title="sriwijaya.jpg"><img src="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/sriwijaya.thumbnail.jpg" alt="sriwijaya.jpg" /></a></p>
<p><strong>Kerajaan Sriwijaya</strong> berpusat di daerah yang sekarang dikenal sebagai Palembang di Sumatra. Pengaruhnya amat besar meliputi Indonesia, Semenanjung Malaysia dan Filipina.</p>
<p>Kekuasaan Sriwijaya merosot pada abad ke-11. Kerajaan Sriwijaya mulai ditaklukkan oleh berbagai kerajaan Jawa, pertama oleh kerajaan Singosari (Singhasari) dan akhirnya oleh kerajaan Majapahit.</p>
<p>Malangnya, sejarah Asia Tenggara tidak didokumentasikan dengan baik. Sumber sejarahnya berdasarkan laporan dari orang luar, prasasti dan penemuan arkaelogi, artifak seperti patung dan lukisan, dan hikayat.</p>
<p>Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya agama Hindu dan kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Srivijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melewati perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9.</p>
<p>Kerajaan Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, dan pulau Kalimantan bagian Barat.</p>
<p>Pada masa yang sama, agama Islam memasuki Sumatra melalui Aceh yang telah tersebar melalui hubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada tahun 1414 pangeran terakhir Sriwijaya, Parameswara, memeluk agama Islam dan berhijrah ke Semenanjung Malaya dan mendirikan Kesultanan Melaka.</p>
<p>Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan di pelosok kepulauan nusantara dan Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pada tahun 1017, 1025, dan 1068, Sriwijaya telah diserbu raja Chola dari kerajaan <span class="new">Colamandala</span>(India) yang mengakibatkan hancurnya jalur perdagangan. Pada serangan kedua tahun 1025, raja Sri Sanggramawidjaja Tungadewa ditawan. Pada masa itu juga, Sriwijaya telah kehilangan monopoli atas lalu-lintas perdagangan Tiongkok-India. Akibatnya kemegahan Sriwijaya menurun. Kerajaan Singasari yang berada di bawah naungan Sriwijaya melepaskan diri. Pada tahun 1088, Kerajaan Melayu Jambi, yang dahulunya berada di bawah naungan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya taklukannya. Kekuatan kerajaan Melayu Jambi berlangsung hingga dua abad sebelum akhirnya melemah dan takluk di bawah Majapahit.</p>
<p><em>dari berbagai sumber </em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiadulu.wordpress.com/16/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiadulu.wordpress.com/16/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiadulu.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiadulu.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiadulu.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiadulu.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiadulu.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiadulu.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiadulu.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiadulu.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiadulu.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiadulu.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=16&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/06/kerajaan-sriwijaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9de7c341a6ef6f2cb7002ebf0806056?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia dulu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/sriwijaya.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sriwijaya.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Mataram Kuno</title>
		<link>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/04/kerajaan-mataram-kuno/</link>
		<comments>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/04/kerajaan-mataram-kuno/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jun 2007 05:36:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiadulu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zaman Kerajaan Hindu-Budha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/04/kerajaan-mataram-kuno/</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan Mataram (Hindu-Buddha), sering disebut dengan Kerajaan Mataram Kuno sebagai pembeda dengan Mataram Baru atau Kesultanan Mataram (Islam), adalah suatu kerajaan yang berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan antara abad ke-8 dan abad ke-10. Kerajaan Mataram terdiri dari dua dinasti, yakni Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya yang bercorak Hindu didirikan oleh Sanjaya pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=11&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Kerajaan Mataram</strong> (Hindu-Buddha), sering disebut dengan <strong>Kerajaan Mataram Kuno</strong> sebagai pembeda dengan <em>Mataram Baru</em> atau Kesultanan Mataram (Islam), adalah suatu kerajaan yang berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan antara abad ke-8 dan abad ke-10. Kerajaan Mataram terdiri dari dua dinasti, yakni Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. Dinasti Sanjaya yang bercorak Hindu didirikan oleh Sanjaya pada tahun 732. Beberapa saat kemudian, Dinasti Syailendra yang bercorak Buddha Mahayana didirikan oleh Bhanu pada tahun 752. Kedua dinasti ini berkuasa berdampingan secara damai. Nama <em>Mataram</em> sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa raja Balitung.</p>
<h2><span class="mw-headline">Dinasti Syailendra</span></h2>
<p><img src="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/borobudur-complete.jpg" alt="borobudur-complete.jpg" /></p>
<p>Photo : Candi Borobudur, salah satu peninggalan Dinansti Syailendra</p>
<p>Dinasti Syailendra diduga berasal dari daratan Indocina (sekarang Thailand dan Kamboja). Dinasti ini bercorak Budha Mahayana, didirikan oleh Bhanu pada tahun 752. Pada awal era Mataram Kuno, Dinasti Syailendra cukup dominan dibanding Dinasti Sanjaya. Pada masa pemerintahan raja Indra (782-812), Syailendra mengadakan ekspedisi perdagangan ke Sriwijaya. Ia juga melakukan perkawinan politik: puteranya, Samaratungga, dinikahkan dengan Dewi Tara, puteri raja Sriwijaya. Pada tahun 790, Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenla (Kamboja), kemudian sempat berkuasa di sana selama beberapa tahuan. Peninggalan terbesar Dinasti Syailendra adalah Candi Borobudur yang selesai dibangun pada masa pemerintahan raja Samaratungga (812-833).</p>
<p><a name="Dinasti_Sanjaya" id="Dinasti_Sanjaya"></a></p>
<h2><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Dinasti Sanjaya</span></h2>
<p>Tak banyak yang diketahui sejarah Dinasti Sanjaya sejak sepeninggal Raja Sanna. Rakai Pikatan, yang waktu itu menjadi pangeran Dinasti Sanjaya, menikah dengan Pramodhawardhani (833-856), puteri raja Dinasti Syailendara Samaratungga. Sejak itu pengaruh Sanjaya yang bercorak Hindu mulai dominan di Mataram, menggantikan Agama Buddha. Rakai Pikatan bahkan mendepak Raja Balaputradewa (putera Samaratungga dan Dewi Tara). Tahun 850, era Dinasti Syailendra berakhir yang ditandai dengan larinya Balaputradewa ke Sriwijaya.</p>
<p>Pada tahun 910, Raja Tulodong mendirikan Candi Prambanan. Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Asia Tenggara. Pada masa ini, ditulis karya sastra <em>Ramayana</em> dalam Bahasa Kawi. Tahun 928, Raja Mpu Sindok memindahkan istana Kerajaan Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (Medang). Perpindahan ini diduga akibat letusan Gunung Merapi, atau mendapat serangan dari Sriwijaya.</p>
<p><em>dari berbagai sumber </em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiadulu.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiadulu.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiadulu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiadulu.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiadulu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiadulu.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiadulu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiadulu.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiadulu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiadulu.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiadulu.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiadulu.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=11&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/04/kerajaan-mataram-kuno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9de7c341a6ef6f2cb7002ebf0806056?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia dulu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/borobudur-complete.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">borobudur-complete.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Sunda</title>
		<link>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/02/kerajaan-sunda/</link>
		<comments>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/02/kerajaan-sunda/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 Jun 2007 04:19:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiadulu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zaman Kerajaan Hindu-Budha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/02/kerajaan-sunda/</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh adalah dua kerajaan yang merupakan pecahan dari Kerajaan Tarumanagara. Dalam catatan perjalanan Tome Pires ( 1513 ), disebutkan bahwa dayo (dayeuh) Kerajaan Sunda terletak dua hari perjalanan dari Pelabuhan Kalapa yang terletak di muara Sungai Ciliwung. Keterangan mengenai keberadaan kedua kerajaan ini juga terdapat pada beberapa prasasti. Prasasti di Bogor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=9&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/prasasti-galuh.jpg" title="prasasti-galuh.jpg"><img src="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/prasasti-galuh.thumbnail.jpg" alt="prasasti-galuh.jpg" /></a><strong>Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh</strong> adalah dua kerajaan yang merupakan pecahan dari Kerajaan Tarumanagara. Dalam catatan perjalanan Tome Pires ( 1513 ), disebutkan bahwa dayo (dayeuh) Kerajaan Sunda terletak dua hari perjalanan dari Pelabuhan Kalapa yang terletak di muara Sungai Ciliwung. Keterangan mengenai keberadaan kedua kerajaan ini juga terdapat pada beberapa prasasti. Prasasti di Bogor banyak bercerita tentang Kerajaan Sunda sebagai pecahan Tarumanagara, sedangkan prasasti di daerah Sukabumi bercerita tentang keadaan Kerajaan Sunda sampai dengan masa Sri Jayabupati.</p>
<h3><span class="mw-headline">Pembagian Tarumanagara</span></h3>
<p>Tarusbawa yang berasal dari Kerajaan Sunda Sambawa menggantikan mertuanya menjadi penguasa Tarumanagara yang ke-13. Karena pamor Tarumanagara pada zamannya sudah sangat menurun, ia ingin mengembalikan keharuman jaman Purnawarman yang berkedudukan di purasaba (ibukota) Sundapura. Dalam tahun 670 M, ia mengganti nama Tarumanagara menjadi Kerajaan Sunda. Peristiwa ini dijadikan alasan oleh Wretikandayun, pendiri Kerajaan Galuh, untuk memisahkan negaranya dari kekuasaan Tarusbawa.</p>
<p>Karena Putera Mahkota Galuh berjodoh dengan Parwati puteri Maharani Shima dari Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah, maka dengan dukungan Kalingga, Wretikandayun menuntut kepada Tarusbawa supaya bekas kawasan Tarumanagara dipecah dua. Dalam posisi lemah dan ingin menghindarkan perang saudara, Tarusbawa menerima tuntutan Galuh. Dalam tahun 670 M Kawasan Tarumanagara dipecah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dengan Sungai Citarum sebagai batas.</p>
<p><a name="Lokasi_ibukota_Sunda" id="Lokasi_ibukota_Sunda"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span> <span class="mw-headline">Lokasi ibukota Sunda</span></h3>
<p>Maharaja Tarusbawa kemudian mendirikan ibukota kerajaan yang baru, seperti yang sudah diungkapkan dibagian sebelumnya, di daerah pedalaman dekat hulu <span class="new">Sungai Cipakancilan</span>. Dalam Carita Parahiyangan, tokoh Tarusbawa ini hanya disebut dengan gelarnya: Tohaan di Sunda (Raja Sunda). Ia menjadi cakal-bakal raja-raja Sunda dan memerintah sampai tahun 723 M.</p>
<p>Sunda sebagai nama kerajaan tercatat dalam dua buah prasasti batu yang ditemukan di Bogor dan Sukabumi. Kehadiran Prasasti Jayabupati di daerah Cibadak sempat membangkitkan dugaan bahwa Ibukota Kerajaan Sunda terletak di daerah itu. Namun dugaan itu tidak didukung oleh bukti-bukti sejarah lainnya. Isi prasasti hanya menyebutkan larangan menangkap ikan pada bagian <span class="new">Sungai Cicatih</span> yang termasuk kawasan Kabuyutan Sanghiyang Tapak. Sama halnya dengan kehadiran batu bertulis Purnawarman di Pasir Muara dan Pasir Koleangkak yang tidak menunjukkan letak ibukota Tarumanagara.</p>
<p><a name="Keterlibatan_Kalingga" id="Keterlibatan_Kalingga"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Keterlibatan Kalingga</span></h3>
<p>Karena putera mahkota wafat mendahului Tarusbawa, maka anak wanita dari putera mahkota (bernama Tejakancana) diangkat sebagai anak dan ahli waris kerajaan. Suami puteri inilah yang dalam tahun 723 menggantikan Tarusbawa menjadi Raja Sunda II. Cicit Wretikandayun ini bernama Rakeyan Jamri. Sebagai penguasa Kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai Kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya.</p>
<p>Sebagai ahli waris Kalingga ia kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram (Mataram Kuno) dalam tahun 732 M. Kekuasaan di Jawa Barat diserahkannya kepada puteranya dari Tejakencana, Tamperan atau Rakeyan Panaraban. Ia adalah kakak seayah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari Sudiwara puteri Dewasinga Raja Kalingga Selatan atau Bumi Sambara.</p>
<p><a name="Prasasti_Jayabupati" id="Prasasti_Jayabupati"></a></p>
<h2><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Prasasti Jayabupati</span></h2>
<p><a name="Isi_prasasti" id="Isi_prasasti"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Isi prasasti</span></h3>
<p>Telah diungkapkan di awal bahwa nama Sunda sebagai kerajaan tersurat pula dalam prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi. Prasasti ini terdiri atas 40 baris sehingga memerlukan empat (4) buah batu untuk menuliskannya. Keempat batu bertulis itu ditemukan pada aliran <span class="new">Sungai Cicatih</span> di daerah <span class="new">Cibadak</span>. Tiga ditemukan di dekat Kampung Bantar Muncang, sebuah ditemukan di dekat Kampung Pangcalikan. Keunikan prasasti ini adalah disusun dalam huruf dan bahasa Jawa Kuno. Keempat prasasti itu sekarang disimpan di Museum Pusat dengan nomor kode D 73 (dari Cicatih), D 96, D 97 dan D 98. Isi ketiga batu pertama (menurut Pleyte):</p>
<dl>
<dd>D 73 :</dd>
<dd>//O// <em>Swasti shakawarsatita 952 karttikamasa tithi dwadashi shuklapa-ksa. ha. ka. ra. wara tambir. iri- ka diwasha nira prahajyan sunda ma-haraja shri jayabhupati jayamana- hen wisnumurtti samarawijaya shaka-labhuwanamandaleswaranindita harogowardhana wikra-mottunggadewa, ma-</em></dd>
</dl>
<dl>
<dd>D 96 :</dd>
<dd><em>gaway tepek i purwa sanghyang tapak ginaway denira shri jayabhupati prahajyan sunda. mwang tan hanani baryya baryya shila. irikang lwah tan pangalapa ikan sesini lwah. Makahingan sanghyang tapak wates kapujan i hulu, i sor makahingan ia sanghyang tapak wates kapujan i wungkalagong kalih matangyan pinagawayaken pra-sasti pagepageh. mangmang sapatha.</em></dd>
</dl>
<dl>
<dd>D 97 :</dd>
<dd><em>sumpah denira prahajyan sunda. lwirnya nihan.</em></dd>
</dl>
<p><strong>Terjemahan isi prasasti</strong>, adalah sebagai berikut:</p>
<dl>
<dd><em>Selamat. Dalam tahun Saka 952 bulan Kartika tanggal 12 bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, Ahad, Wuku Tambir. Inilah saat Raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, membuat tanda di sebelah timur Sanghiyang Tapak. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan jangan ada yang melanggar ketentuan ini. Di sungai ini jangan (ada yang) menangkap ikan di sebelah sini sungai dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak sebelah hulu. Di sebelah hilir dalam batas daerah pemujaan Sanghyang Tapak pada dua batang pohon besar. Maka dibuatlah prasasti (maklumat) yang dikukuhkan dengan Sumpah.</em></dd>
</dl>
<p>Sumpah yang diucapkan oleh Raja Sunda lengkapnya tertera pada prasasti keempat (D 98). Terdiri dari 20 baris, intinya menyeru semua kekuatan gaib di dunia dan disurga agar ikut melindungi keputusan raja. Siapapun yang menyalahi ketentuan tersebut diserahkan penghukumannya kepada semua kekuatan itu agar dibinasakan dengan menghisap otaknya, menghirup darahnya, memberantakkan ususnya dan membelah dadanya. Sumpah itu ditutup dengan kalimat seruan, <em>I wruhhanta kamung hyang kabeh</em> (ketahuilah olehmu parahiyang semuanya).</p>
<p><a name="Tanggal_prasasti" id="Tanggal_prasasti"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Tanggal prasasti</span></h3>
<p>Tanggal pembuatan Prasasti Jayabupati bertepatan dengan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun (952 &#8211; 964) saka (1030 -1042 M). Isi prasasti itu dalam segala hal menunjukkan corak Jawa Timur. Tidak hanya huruf, bahasa dan gaya, melainkan juga gelar raja yang mirip dengan gelar raja di lingkungan Keraton Darmawangsa. Tokoh Sri Jayabupati dalam Carita Parahiyangan disebut dengan nama Prabu Detya Maharaja. Ia adalah raja Sunda ke-20 setalah Maharaja Tarusbawa.</p>
<p><a name="Penyebab_perpecahan" id="Penyebab_perpecahan"></a></p>
<h2><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Penyebab perpecahan</span></h2>
<p>Telah diungkapkan sebelumnya, bahwa Kerajaan Sunda adalah pecahan Tarumanagara. Peristiwa itu terjadi tahun 670 M. Hal ini sejalan dengan sumber berita Cina yang menyebutkan bahwa utusan Tarumanagara yang terakhir mengunjungi negeri itu terjadi tahun 669 M. Tarusbawa memang mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatannya kepada Raja Cina dalam tahun 669 M. Ia sendiri dinobatkan pada tanggal 9 bagian-terang bulan Jesta tahun 591 Saka, kira-kira bertepatan dengan tanggal 18 Mei 669 M.</p>
<p><a name="Sanna_dan_Purbasora" id="Sanna_dan_Purbasora"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Sanna dan Purbasora</span></h3>
<p>Tarusbawa adalah sahabat baik Bratasenawa alis Sena (709 &#8211; 716 M), Raja Galuh ketiga. Tokoh ini juga dikenal dengan Sanna, yaitu raja dalam Prasasti Canggal (732 M), sekaligus paman dari Sanjaya. Persahabatan ini pula yang mendorong Tarusbawa mengambil Sanjaya menjadi menantunya. Bratasenawa alias Sanna atau Sena digulingkan dari tahta Galuh oleh Purbasora dalam tahun 716 M. Purbasora adalah cucu Wretikandayun dari putera sulungnya, Batara Danghyang Guru Sempakwaja, pendiri kerajaan Galunggung. Sedangkan Sena adalah cucu Wretikandayun dari putera bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua (702-709 M).</p>
<p>Sebenarnya Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu karena hubungan gelap antara Mandiminyak dengan istri Sempakwaja. Tokoh Sempakwaja tidak dapat menggantikan kedudukan ayahnya menjadi Raja Galuh karena ompong. Sementara, seorang raja tak boleh memiliki cacat jasmani. Karena itulah, adiknya yang bungsu yang mewarisi tahta Galuh dari Wretikandayun. Tapi, putera Sempakwaja merasa tetap berhak atas tahta Galuh. Lagipula asal-usul Raja Sena yang kurang baik telah menambah hasrat Purbasora untuk merebut tahta Galuh dari Sena.</p>
<p>Dengan bantuan pasukan dari mertuanya, Raja Indraprahasta, sebuah kerajaan di daerah Cirebon sekarang, Purbasora melancarkan perebutan tahta Galuh. Sena akhirnya melarikan diri ke Kalingga, ke kerajaan nenek isterinya, Maharani Shima.</p>
<p><a name="Sanjaya_dan_Balangantrang" id="Sanjaya_dan_Balangantrang"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Sanjaya dan Balangantrang</span></h3>
<p>Sanjaya, anak Sannaha saudara perempuan Sena, berniat menuntut balas terhadap keluarga Purbasora. Untuk itu ia meminta bantuan Tarusbawa, sahabat Sena. Hasratnya dilaksanakan setelah menjadi Raja Sunda yang memerintah atas nama isterinya.</p>
<p>Sebelum itu ia telah menyiapkan pasukan khusus di daerah Gunung Sawal atas bantuan Rabuyut Sawal, yang juga sahabat baik Sena. Pasukan khusus ini langsung dipimpin Sanjaya, sedangkan pasukan Sunda dipimpin Patih Anggada. Serangan dilakukan malam hari dengan diam-diam dan mendadak. Seluruh keluarga Purbasora gugur. Yang berhasil meloloskan diri hanyalah menantu Purbasora, yang menjadi Patih Galuh, bersama segelintir pasukan.</p>
<p>Patih itu bernama Bimaraksa yang lebih dikenal dengan Ki Balangantrang karena ia merangkap sebagai senapati kerajaan. Balangantrang ini juga cucu Wretikandayun dari putera kedua bernama Resi Guru Jantaka atau Rahyang Kidul, yang tak bisa menggantikan Wretikandayun karena menderita &#8220;kemir&#8221; atau hernia. Balangantrang bersembunyi di kampung Gègèr Sunten dan dengan diam-diam menghimpun kekuatan anti Sanjaya. Ia mendapat dukungan dari raja-raja di daerah Kuningan dan juga sisa-sisa laskar Indraprahasta, setelah kerajaan itu juga dilumatkan oleh Sanjaya sebagai pembalasan karena dulu membantu Purbasora menjatuhkan Sena.</p>
<p>Sanjaya mendapat pesan dari Sena, bahwa kecuali Purbasora, anggota keluarga Keraton Galuh lainnya harus tetap dihormati. Sanjaya sendiri tidak berhasrat menjadi penguasa Galuh. Ia melalukan penyerangan hanya untuk menghapus dendam ayahnya. Setelah berhasil mengalahkan Purbasora, ia segera menghubungi uwaknya, Sempakwaja, di Galunggung dan meminta beliau agar Demunawan, adik Purbasora, direstui menjadi penguasa Galuh. Akan tetapi Sempakwaja menolak permohonan itu karena takut kalau-kalau hal tersebut merupakan muslihat Sanjaya untuk melenyapkan Demunawan.</p>
<p>Sanjaya sendiri tidak bisa menghubungi Balangantrang karena ia tak mengetahui keberadaannya. Akhirnya Sanjaya terpaksa mengambil hak untuk dinobatkan sebagai Raja Galuh. Ia menyadari bahwa kehadirannya di Galuh kurang disenangi. Selain itu sebagai Raja Sunda ia sendiri harus berkedudukan di Pakuan. Untuk pimpinan pemerintahan di Galuh ia mengangkat Premana Dikusuma, cucu Purbasora. Premana Dikusuma saat itu berkedudukan sebagai raja daerah. Dalam usia 43 tahun (lahir tahun 683 M), ia telah dikenal sebagai raja resi karena ketekunannya mendalami agama dan bertapa sejak muda. Ia dijuluki Bagawat Sajalajaya.</p>
<p><a name="Premana.2C_Pangreyep_dan_Tamperan" id="Premana.2C_Pangreyep_dan_Tamperan"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Premana, Pangreyep dan Tamperan</span></h3>
<p>Penunjukkan Premana oleh Sanjaya cukup beralasan karena ia cucu Purbasora. Selain itu, isterinya, Naganingrum, adalah anak Ki Balangantrang. Jadi suami istri itu mewakili keturunan Sempakwaja dan Jantaka, putera pertama dan kedua Wretikandayun.</p>
<p>Pasangan Premana dan Naganingrum sendiri memiliki putera bernama Surotama alias Manarah (lahir 718 M, jadi ia baru berusia 5 tahun ketika Sanjaya menyerang Galuh). Surotama atau Manarah dikenal dalam literatur Sunda klasik sebagai Ciung Wanara. Kelak di kemudian hari, Ki Bimaraksa alias Ki Balangantrang, buyut dari ibunya, yang akan mengurai kisah sedih yang menimpa keluarga leluhurnya dan sekaligus menyiapkan Manarah untuk melakukan pembalasan.</p>
<p>Untuk mengikat kesetiaan Premana Dikusumah terhadap pemerintahan pusat di Pakuan, Sanjaya menjodohkan Raja Galuh ini dengan Dewi Pangrenyep, puteri Anggada, Patih Sunda. Selain itu Sanjaya menunjuk puteranya, Tamperan, sebagai Patih Galuh sekaligus memimpin &#8220;garnizun&#8221; Sunda di ibukota Galuh.</p>
<p>Premana Dikusumah menerima kedudukan Raja Galuh karena terpaksa keadaan. Ia tidak berani menolak karena Sanjaya memiliki sifat seperti Purnawarman, baik hati terhadap raja bawahan yang setia kepadanya dan sekaligus tak mengenal ampun terhadap musuh-musuhnya. Penolakan Sempakwaja dan Demunawan masih bisa diterima oleh Sanjaya karena mereka tergolong angkatan tua yang harus dihormatinya.</p>
<p>Kedudukan Premana serba sulit, ia sebagai Raja Galuh yang menjadi bawahan Raja Sunda yang berarti harus tunduk kepada Sanjaya yang telah membunuh kakeknya. Karena kemelut seperti itu, maka ia lebih memilih meninggalkan istana untuk bertapa di dekat perbatasan Sunda sebelah timur Citarum dan sekaligus juga meninggalkan istrinya, Pangrenyep. Urusan pemerintahan diserahkannya kepada Tamperan, Patih Galuh yang sekaligus menjadi &#8220;mata dan telinga&#8221; Sanjaya. Tamperan mewarisi watak buyutnya, Mandiminyak yang senang membuat skandal. Ia terlibat skandal dengan Pangrenyep, istri Premana, dan membuahkan kelahiran Kamarasa alias Banga (723 M).</p>
<p>Skandal itu terjadi karena beberapa alasan, pertama Pangrenyep pengantin baru berusia 19 tahun dan kemudian ditinggal suami bertapa; kedua keduanya berusia sebaya dan telah berkenalan sejak lama di Keraton Pakuan dan sama-sama cicit Maharaja Tarusbawa; ketiga mereka sama-sama merasakan derita batin karena kehadirannya sebagai orang Sunda di Galuh kurang disenangi.</p>
<p>Untuk menghapus jejak Tamperan mengupah seseorang membunuh Premana dan sekaligus diikuti pasukan lainnya sehingga pembunuh Premana pun dibunuh pula. Semua kejadian ini rupanya tercium oleh senapati tua Ki Balangantrang.</p>
<p><a name="Tamperan_sebagai_raja" id="Tamperan_sebagai_raja"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Tamperan sebagai raja</span></h3>
<p>Dalam tahun 732 M Sanjaya mewarisi tahta Kerajaan Mataram dari orangtuanya. Sebelum ia meninggalkan kawasan Jawa Barat, ia mengatur pembagian kekuasaan antara puteranya, Tamperan, dan Resi Guru Demunawan. Sunda dan Galuh menjadi kekuasaan Tamperan, sedangkan Kerajaan Kuningan dan Galunggung diperintah oleh Resi Guru Demunawan, putera bungsu Sempakwaja.</p>
<p>Demikianlah Tamperan menjadi penguasa Sunda-Galuh melanjutkan kedudukan ayahnya dari tahun 732 &#8211; 739 M. Sementara itu Manarah alias Ciung Wanara secara diam-diam menyiapkan rencana perebutan tahta Galuh dengan bimbingan buyutnya, Ki Balangantrang, di Geger Sunten. Rupanya Tamperan lalai mengawasi anak tirinya ini yang ia perlakukan seperti anak sendiri.</p>
<p>Sesuai dengan rencana Balangantrang, penyerbuan ke Galuh dilakukan siang hari bertepatan dengan pesta sabung ayam. Semua pembesar kerajaan hadir, termasuk Banga. Manarah bersama anggota pasukannya hadir dalam gelanggang sebagai penyabung ayam. Balangantrang memimpin pasukan Geger Sunten menyerang keraton.</p>
<p>Kudeta itu berhasil dalam waktu singkat seperti peristiwa tahun 723 ketika Manarah berhasil menguasai Galuh dalam tempo satu malam. Raja dan permaisuri Pangrenyep termasuk Banga dapat ditawan di gelanggang sabung ayam. Banga kemudian dibiarkan bebas. Pada malam harinya ia berhasil membebaskan Tamperan dan Pangrenyep dari tahanan.</p>
<p>Akan tetapi hal itu diketahui oleh pasukan pengawal yang segera memberitahukannya kepada Manarah. Terjadilah pertarungan antara Banga dan Manarah yang berakhir dengan kekalahan Banga. Sementara itu pasukan yang mengejar raja dan permaisuri melepaskan panah-panahnya di dalam kegelapan sehingga menewaskan Tamperan dan Pangrenyep.</p>
<p><a name="Manarah_dan_Banga" id="Manarah_dan_Banga"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Manarah dan Banga</span></h3>
<p>Berita kematian Tamperan didengar oleh Sanjaya yang ketika itu memerintah di Mataram (Jawa Tengah), yang kemudian dengan pasukan besar menyerang purasaba Galuh. Namun Manarah telah menduga itu sehingga ia telah menyiapkan pasukan yang juga didukung oleh sisa-sisa pasukan Indraprahasta yang ketika itu sudah berubah nama menjadi Wanagiri, dan raja-raja di daerah Kuningan yang pernah dipecundangi Sanjaya.</p>
<p>Perang besar sesama keturunan Wretikandayun itu akhirnya bisa dilerai oleh Raja Resi Demunawan (lahir 646 M, ketika itu berusia 93 tahun). Dalam perundingan di keraton Galuh dicapai kesepakatan: Galuh diserahkan kepada Manarah dan Sunda kepada Banga. Demikianlah lewat perjanjian Galuh tahun 739 ini, Sunda dan Galuh yang selama periode 723 &#8211; 739 berada dalam satu kekuasan terpecah kembali. Dalam perjanjian itu ditetapkan pula bahwa Banga menjadi raja bawahan. Meski Banga kurang senang, tetapi ia menerima kedudukan itu. Ia sendiri merasa bahwa ia bisa tetap hidup atas kebaikan hati Manarah.</p>
<p>Untuk memperteguh perjanjian, Manarah dan Banga dijodohkan dengan kedua cicit Demunawan. Manarah sebagai penguasa Galuh bergelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana memperistri Kancanawangi. Banga sebagai Raja Sunda bergelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya dan berjodoh dengan Kancanasari, adik Kancanawangi.</p>
<p><a name="Keturunan_Sunda_dan_Galuh_selanjutnya" id="Keturunan_Sunda_dan_Galuh_selanjutnya"></a></p>
<h2><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Keturunan Sunda dan Galuh selanjutnya</span></h2>
<p>Naskah tua dari kabuyutan Ciburuy, Bayongbong, Garut, yang ditulis pada abad ke-13 atau ke-14 memberitakan bahwa Rakeyan Banga pernah membangun parit Pakuan. Hal ini dilakukannya sebagai persiapan untuk mengukuhkan diri sebagai raja yang merdeka. Ia harus berjuang 20 tahun sebelum berhasil menjadi penguasa yang diakui di sebelah barat Citarum dan lepas dari kedudukan sebagi raja bawahan Galuh. Ia memerintah 27 tahun lamanya (739 &#8211; 766).</p>
<p>Manarah di Galuh memerintah sampai tahun 783. Ia dikaruniai umur panjang. Dalam tahun tersebut ia melakukan manurajasuniya, mengundurkan diri dari tahta kerajaan untuk melakukan tapa sampai akhir hayat, dan baru wafat tahun 798 dalam usia 80 tahun.</p>
<p>Dalam naskah-naskah babad, posisi Manarah dan Banga ini dikacaukan. Tidak saja dalam hal usia, di mana Banga dianggap lebih tua. Tapi, juga dalam penempatan mereka sebagai raja. Dalam naskah-naskah tua, silsilah raja-raja Pakuan selalu dimulai dengan tokoh Banga. Kekacauan silsilah dan penempatan posisi itu mulai tampak dalam naskah Carita Waruga Guru yang ditulis pada pertengahan abad 18.</p>
<p>Kekeliruan paling menyolok dalam babad ialah kisah Banga yang dianggap sebagai pendiri kerajaan Majapahit. Padahal, Majapahit baru didirikan Raden Wijaya dalam tahun 1293, 527 tahun setelah Banga wafat. Kekalutan itu dapat dibandingkan dengan kisah pertemuan Walangsungsang dengan Sayidina Ali yang masa hidupnya berselisih 8 1/2 abad.</p>
<p>Keturunan Manarah putus hanya sampai cicitnya yang bernama Prabulinggabumi (813 &#8211; 852). Tahta Galuh diserahkan kepada suami adiknya yaitu Rakeyan Wuwus alias Prabu Gajah Kulon (819 &#8211; 891), cicit Banga yang menjadi Raja Sunda ke-8 (dihitung dari Tarusbawa). Sejak tahun 852 M kedua kerajaan pecahan Tarumanagara itu diperintah oleh keturunan Banga sebagai akibat perkawinan di antara para kerabat keraton: Sunda-Galuh-Kuningan (Saunggalah).</p>
<p><a name="Hubungan_Sunda-Galuh_dan_Sriwijaya" id="Hubungan_Sunda-Galuh_dan_Sriwijaya"></a></p>
<h2><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Hubungan Sunda-Galuh dan Sriwijaya</span></h2>
<p>Sri Jayabupati yang prasastinya telah dibicarakan di muka adalah Raja Sunda yang ke-20. Ia putra Sanghiyang Ageng (1019 &#8211; 1030 M). Ibunya seorang puteri Sriwijaya dan masih kerabat dekat Raja Wurawuri. Adapun permaisuri Sri Jayabupati adalah puteri dari Dharmawangsa, raja Kerajaan Medang, dan adik Dewi Laksmi isteri Airlangga. Karena pernikahan tersebut Jayabupati mendapat anugerah gelar dari mertuanya, Dharmawangsa. Gelar itulah yang dicantumkannya dalam prasasti Cibadak.</p>
<p>Raja Sri Jayabupati pernah mengalami peristiwa tragis. Dalam kedudukannya sebagai Putera Mahkota Sunda keturunan Sriwijaya dan menantu Dharmawangsa, ia harus menyaksikan permusuhan yang makin menjadi-jadi antara Sriwijaya dengan mertuanya, Dharmawangsa. Pada puncak krisis ia hanya menjadi penonton dan terpaksa tinggal diam dalam kekecewaan karena harus &#8220;menyaksikan&#8221; Dharmawangsa diserang dan dibinasakan oleh Raja Wurawuri atas dukungan Sriwijaya. Ia diberi tahu akan terjadinya serbuan itu oleh pihak Sriwijaya, akan tetapi ia dan ayahnya diancam agar bersikap netral dalam hal ini. Serangan Wurawuri yang dalam Prasasti Calcutta (disimpan di sana) disebut pralaya itu terjadi tahun 1019 M.</p>
<p><a name="Daftar_raja-raja_Sunda" id="Daftar_raja-raja_Sunda"></a></p>
<h2><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Daftar raja-raja Sunda</span></h2>
<p>Di bawah ini adalah urutan raja-raja Sunda sampai Sri Jayabupati yang berjumlah 20 orang :</p>
<ol>
<li>Maharaja Tarusbawa (669 &#8211; 723 M)</li>
<li>Sanjaya Harisdarma, cucu-menantu no. 1,(723-732 M).</li>
<li>Tamperan Barmawijaya (732-739 M).</li>
<li>Rakeyan Banga (739-766 M).</li>
<li>Rakeyan Medang Prabu Hulukujang (766-783 M).</li>
<li>Prabu Gilingwesi, menantu no. 5,(783-795 M).</li>
<li>Pucukbumi Darmeswara, menantu no. 6, (795-819 M).</li>
<li>Prabu Gajah Kulon Rakeyan Wuwus (819-891 M).</li>
<li>Prabu Darmaraksa (adik-ipar no. 8, 891 &#8211; 895 M).</li>
<li>Windusakti Prabu Dewageng (895 &#8211; 913 M).</li>
<li>Rakeyan Kemuning Gading Prabu Pucukwesi (913-916 M).</li>
<li>Rakeyan Jayagiri Prabu Wanayasa, menantu no. 11, (916-942 M).</li>
<li>Prabu Resi Atmayadarma Hariwangsa (942-954 M).</li>
<li>Limbur Kancana,putera no. 11,(954-964 M).</li>
<li>Prabu Munding Ganawirya (964-973 M).</li>
<li>Prabu Jayagiri Rakeyan Wulung Gadung (973 &#8211; 989 M).</li>
<li>Prabu Brajawisesa (989-1012 M).</li>
<li>Prabu Dewa Sanghyang (1012-1019M).</li>
<li>Prabu Sanghyang Ageng (1019 &#8211; 1030 M).</li>
<li>Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030-1042 M)</li>
</ol>
<p>Kecuali Tarusbawa (no. 1), Banga (no. 4) &#8211; Darmeswara (no. 7) yang hanya berkuasa di kawasan sebelat barat Citarum, raja-raja yang lainnya berkuasa di Sunda dan Galuh.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiadulu.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiadulu.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiadulu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiadulu.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiadulu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiadulu.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiadulu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiadulu.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiadulu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiadulu.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiadulu.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiadulu.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=9&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/06/02/kerajaan-sunda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9de7c341a6ef6f2cb7002ebf0806056?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia dulu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/06/prasasti-galuh.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">prasasti-galuh.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Tarumanagara</title>
		<link>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/05/31/kerajaan-tarumanagara/</link>
		<comments>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/05/31/kerajaan-tarumanagara/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 May 2007 09:55:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiadulu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zaman Kerajaan Hindu-Budha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/05/31/kerajaan-tarumanagara/</guid>
		<description><![CDATA[Bila menilik catatan prasasti, tidak ada penjelasan yang pasti siapa yang mendirikan pertama kal kerajaan Taruma. Raja yang berkuasa adalah Purnawarman. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.

Prasasti

Prasasti Kebon Kopi dibuat sekitar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=7&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/05/prasasti-tarumanagara.jpg" title="prasasti-tarumanagara.jpg"><img src="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/05/prasasti-tarumanagara.thumbnail.jpg" alt="prasasti-tarumanagara.jpg" /></a>Bila menilik catatan prasasti, tidak ada penjelasan yang pasti siapa yang mendirikan pertama kal kerajaan Taruma. Raja yang berkuasa adalah Purnawarman. Pada tahun 417 ia memerintahkan penggalian Sungai Gomati dan Candrabaga sepanjang 6112 tombak (sekitar 11 km). Selesai penggalian, sang prabu mengadakan selamatan dengan menyedekahkan 1.000 ekor sapi kepada kaum brahmana.</p>
<p><a title="Prasasti" name="Prasasti" id="Prasasti"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Prasasti</span></h3>
<ol>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Kebon_Kopi" title="Prasasti Kebon Kopi"></a>Prasasti Kebon Kopi dibuat sekitar 400 M (H Kern 1917), ditemukan di perkebunan kopi milik Jonathan Rig, Ciampea, Bogor.</li>
<li>Prasasti Tugu ditemukan di Kampung Batutumbu, Desa Tugu, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, sekarang disimpan di museum di Jakarta. Prasasti tersebut isinya menerangkan penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati oleh Purnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya.Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnawarman, dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau.</li>
<li>Prasasti Munjul atau Prasasti Cidanghiang, ditemukan di aliran Sungai Cidanghiang yang mengalir di Desa Lebak, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten berisi pujian kepada Raja Purnawarman.</li>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Prasasti_Ciaruteun&amp;action=edit" class="new" title="Prasasti Ciaruteun"></a>Prasasti Ciaruteun, Ciampea, Bogor</li>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Prasasti_Muara_Cianten&amp;action=edit" class="new" title="Prasasti Muara Cianten"></a>Prasasti Muara Cianten, Ciampea, Bogor</li>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Jambu" title="Prasasti Jambu"></a>Prasasti Jambu, Nanggung, Bogor</li>
<li><a href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Prasasti_Pasir_Awi&amp;action=edit" class="new" title="Prasasti Pasir Awi"></a>Prasasti Pasir Awi, Citeureup, Bogor</li>
</ol>
<p>Lahan tempat prasasti itu ditemukan berbentuk bukit rendah berpermukaan datar dan diapit tiga batang sungai: Cisadane, Cianten dan Ciaruteun. Sampai abad ke-19, tempat itu masih dilaporkan dengan nama Pasir Muara. Dahulu termasuk bagian tanah swasta Ciampea. Sekarang termasuk wilayah Kecamatan Cibungbulang.</p>
<p>Kampung Muara tempat prasasti Ciaruteun dan Telapak Gajah ditemukan, dahulu merupakan sebuah &#8220;kota pelabuhan sungai&#8221; yang bandarnya terletak di tepi pertemuan Cisadane dengan Cianten. Sampai abad ke-19 jalur sungai itu masih digunakan untuk angkutan hasil perkebunan kopi. Sekarang masih digunakan oleh pedagang bambu untuk mengangkut barang dagangannya ke daerah hilir.</p>
<p>Prasasti pada zaman ini menggunakan aksara Sunda kuno, yang pada awalnya merupakan perkembangan dari aksara tipe Pallawa Lanjut, yang mengacu pada model aksara Kamboja dengan beberapa cirinya yang masih melekat. Pada zaman ini, aksara tersebut belum mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah (lontar) abad ke 16.</p>
<p><a title="Prasasti_Pasir_Muara" name="Prasasti_Pasir_Muara" id="Prasasti_Pasir_Muara"></a></p>
<h4><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Prasasti Pasir Muara</span></h4>
<p>Di Bogor, prasasti ditemukan di Pasir Muara, di tepi sawah, tidak jauh dari prasasti Telapak Gajah peninggalan Purnawarman. Prasasti itu kini tak berada ditempat asalnya. Dalam prasasti itu dituliskan :</p>
<dl>
<dd><em>ini sabdakalanda rakryan juru panga-mbat i kawihaji panyca pasagi marsa-n desa barpulihkan haji su-nda</em></dd>
</dl>
<p>Terjemahannya menurut Bosch:</p>
<dl>
<dd><em>Ini tanda ucapan Rakryan Juru Pengambat dalam tahun (Saka) kawihaji (8) panca (5) pasagi (4), pemerintahan begara dikembalikan kepada raja Sunda.</em></dd>
</dl>
<p>Karena angka tahunnya bercorak &#8220;sangkala&#8221; yang mengikuti ketentuan &#8220;angkanam vamato gatih&#8221; (angka dibaca dari kanan), maka prasasti tersebut dibuat dalam tahun 458 Saka atau 536 Masehi.</p>
<p><a title="Prasasti_Ciaruteun" name="Prasasti_Ciaruteun" id="Prasasti_Ciaruteun"></a></p>
<h4><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Prasasti Ciaruteun</span></h4>
<p>Prasasti Ciaruteun ditemukan pada aliran Sungai Ciaruteun, seratus meter dari pertemuan sungai tersebut dengan Sungai Cisadane; namun pada tahun 1981 diangkat dan diletakkan di dalam cungkup. Prasasti ini peninggalan Purnawarman, beraksara Palawa, berbahasa Sansekerta. Isinya adalah puisi empat baris, yang berbunyi:</p>
<dl>
<dd><em>vikkrantasyavanipateh shrimatah purnavarmmanah tarumanagararendrasya vishnoriva padadvayam</em></dd>
</dl>
<p>Terjemahannya menurut Vogel:</p>
<dl>
<dd><em>Kedua (jejak) telapak kaki yang seperti (telapak kaki) Wisnu ini kepunyaan raja dunia yang gagah berani yang termashur Purnawarman penguasa Tarumanagara.</em></dd>
</dl>
<p>Selain itu, ada pula gambar sepasang &#8220;pandatala&#8221; (jejak kaki), yang menunjukkan tanda kekuasaan —&amp; fungsinya seperti &#8220;tanda tangan&#8221; pada zaman sekarang. Kehadiran prasasti Purnawarman di kampung itu menunjukkan bahwa daerah itu termasuk kawasan kekuasaannya. Menurut <em>Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara</em> parwa II, sarga 3, halaman 161, di antara bawahan Tarumanagara pada masa pemerintahan Purnawarman terdapat nama &#8220;Rajamandala&#8221; (raja daerah) Pasir Muhara.</p>
<p><a title="Prasasti_Telapak_Gajah" name="Prasasti_Telapak_Gajah" id="Prasasti_Telapak_Gajah"></a></p>
<h4><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Prasasti Telapak Gajah</span></h4>
<p>Prasasti Telapak Gajah bergambar sepasang telapak kaki gajah yang diberi keterangan satu baris berbentuk puisi berbunyi:</p>
<dl>
<dd><em>jayavi s halasya tarumendrsaya hastinah airavatabhasya vibhatidam padadavayam</em></dd>
</dl>
<p>Terjemahannya:</p>
<dl>
<dd><em>Kedua jejak telapak kaki adalah jejak kaki gajah yang cemerlang seperti Airawata kepunyaan penguasa Tarumanagara yang jaya dan berkuasa.</em></dd>
</dl>
<p>Menurut mitologi Hindu, Airawata adalah nama gajah tunggangan Batara Indra dewa perang dan penguawa Guntur. Menurut Pustaka Parawatwan i Bhumi Jawadwipa parwa I, sarga 1, gajah perang Purnawarman diberi nama Airawata seperti nama gajah tunggangan Indra. Bahkan diberitakan juga, bendera Kerajaan Tarumanagara berlukiskan rangkaian bunga teratai di atas kepala gajah. Demikian pula mahkota yang dikenakan Purnawarman berukiran sepasang lebah.</p>
<p>Ukiran bendera dan sepasang lebah itu dengan jelas ditatahkan pada prasasti Ciaruteun yang telah memancing perdebatan mengasyikkan di antara para ahli sejarah mengenai makna dan nilai perlambangannya. Ukiran kepala gajah bermahkota teratai ini oleh para ahli diduga sebagai &#8220;huruf ikal&#8221; yang masih belum terpecahkan bacaaanya sampai sekarang. Demikian pula tentang ukiran sepasang tanda di depan telapak kaki ada yang menduganya sebagai lambang labah-labah, matahari kembar atau kombinasi surya-candra (matahari dan bulan). Keterangan pustaka dari Cirebon tentang bendera Tarumanagara dan ukiran sepasang &#8220;bhramara&#8221; (lebah) sebagai cap pada mahkota Purnawarman dalam segala &#8220;kemudaan&#8221; nilainya sebagai sumber sejarah harus diakui kecocokannya dengan lukisan yang terdapat pada prasasti Ciaruteun.</p>
<p><a title="Prasasti_lain" name="Prasasti_lain" id="Prasasti_lain"></a></p>
<h4><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Prasasti lain</span></h4>
<p>Di daerah Bogor, masih ada satu lagi prasasti lainnya yaitu prasasti batu peninggalan Tarumanagara yang terletak di puncak Bukit Koleangkak, Desa Pasir Gintung, Kecamatan Leuwiliang. Pada bukit ini mengalir (sungai) Cikasungka. Prasasti inipun berukiran sepasang telapak kaki dan diberi keterangan berbentuk puisi dua baris:</p>
<dl>
<dd><em>shriman data kertajnyo narapatir &#8211; asamo yah pura tarumayam nama shri purnnavarmma pracurarupucara fedyavikyatavammo tasyedam &#8211; padavimbadavyam arnagarotsadane nitya-dksham bhaktanam yangdripanam &#8211; bhavati sukhahakaram shalyabhutam ripunam.</em></dd>
</dl>
<p>Terjemahannya menurut Vogel:</p>
<dl>
<dd><em>Yang termashur serta setia kepada tugasnya ialah raja yang tiada taranya bernama Sri Purnawarman yang memerintah Taruma serta baju perisainya tidak dapat ditembus oleh panah musuh-musuhnya; kepunyaannyalah kedua jejak telapak kaki ini, yang selalu berhasil menghancurkan benteng musuh, yang selalu menghadiahkan jamuan kehormatan (kepada mereka yang setia kepadanya), tetapi merupakan duri bagi musuh-musuhnya.</em></dd>
</dl>
<p><a title="Naskah_Wangsakerta" name="Naskah_Wangsakerta" id="Naskah_Wangsakerta"></a></p>
<h3><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Naskah Wangsakerta</span></h3>
<p>Penjelasan tentang Tarumanagara cukup jelas di Naskah Wangsakereta<a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Wangsakerta" title="Naskah Wangsakerta"></a>. Sayangnya, naskah ini mengundang polemik dan banyak pakar sejarah yang meragukan naskah-naskah ini bisa dijadikan rujukan sejarah.</p>
<p>Pada Naskah Wangsakerta dari Cirebon itu, Tarumanegara didirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman pada tahun 358, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dharmayawarman ( 382 &#8211; 395 ). Jayasingawarman dipusarakan di tepi kali Gomati, sedangkan putranya di tepi kali Candrabaga.</p>
<p>Maharaja Purnawarman adalah raja Tarumanagara yang ketiga (395-434 M). Ia membangun ibukota kerajaan baru pada tahun 397 yang terletak lebih dekat ke pantai. Dinamainya kota itu Sundapura&#8211;pertama kalinya nama &#8220;Sunda&#8221; digunakan.</p>
<p>Prasasti Pasir Muara yang menyebutkan peristiwa pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu dibuat tahun 536 M. Dalam tahun tersebut yang menjadi penguasa Tarumanagara adalah Suryawarman (535 &#8211; 561 M) Raja Tarumanagara ke-7. <em>Pustaka Jawadwipa</em>, parwa I, sarga 1 (halaman 80 dan 81) memberikan keterangan bahwa dalam masa pemerintahan Candrawarman (515-535 M), ayah Suryawarman, banyak penguasa daerah yang menerima kembali kekuasaan pemerintahan atas daerahnya sebagai hadiah atas kesetiaannya terhadap Tarumanagara. Ditinjau dari segi ini, maka Suryawarman melakukan hal yang sama sebagai lanjutan politik ayahnya.</p>
<p>Rakeyan Juru Pengambat yang tersurat dalam prasasti Pasir Muara mungkin sekali seorang pejabat tinggi Tarumanagara yang sebelumnya menjadi wakil raja sebagai pimpinan pemerintahan di daerah tersebut. Yang belum jelas adalah mengapa prasasti mengenai pengembalian pemerintahan kepada Raja Sunda itu terdapat di sana? Apakah daerah itu merupakan pusat Kerajaan Sunda atau hanya sebuah tempat penting yang termasuk kawasan Kerajaan Sunda?</p>
<p>Baik sumber-sumber prasasti maupun sumber-sumber Cirebon memberikan keterangan bahwa Purnawarman berhasil menundukkan musuh-musuhnya. Prasasti Munjul di Pandeglang menunjukkan bahwa wilayah kekuasaannya mencakup pula pantai Selat Sunda. Pustaka Nusantara, parwa II sarga 3 (halaman 159 &#8211; 162) menyebutkan bahwa di bawah kekuasaan Purnawarman terdapat 48 raja daerah yang membentang dari Salakanagara atau Rajatapura (di daerah Teluk Lada Pandeglang) sampai ke Purwalingga (sekarang Purbolinggo) di Jawa Tengah. Secara tradisional Cipamali (Kali Brebes) memang dianggap batas kekuasaan raja-raja penguasa Jawa Barat pada masa silam.</p>
<p>Kehadiran Prasasti Purnawarman di Pasir Muara, yang memberitakan Raja Sunda dalam tahun 536 M, merupakan gejala bahwa Ibukota Sundapura telah berubah status menjadi sebuah kerajaan daerah. Hal ini berarti, pusat pemerintahan Tarumanagara telah bergeser ke tempat lain. Contoh serupa dapat dilihat dari kedudukaan Rajatapura atau Salakanagara (kota Perak), yang disebut Argyre oleh Ptolemeus dalam tahun 150 M. Kota ini sampai tahun 362 menjadi pusat pemerintahan Raja-raja Dewawarman (dari Dewawarman I &#8211; VIII).</p>
<p>Ketika pusat pemerintahan beralih dari Rajatapura ke Tarumangara, maka Salakanagara berubah status menjadi kerajaan daerah. Jayasingawarman pendiri Tarumanagara adalah menantu Raja Dewawarman VIII. Ia sendiri seorang Maharesi dari Salankayana di India yang mengungsi ke Nusantara karena daerahnya diserang dan ditaklukkan Maharaja Samudragupta dari Kerajaan Magada.</p>
<p>Suryawarman tidak hanya melanjutkan kebijakan politik ayahnya yang memberikan kepercayaan lebih banyak kepada raja daerah untuk mengurus pemerintahan sendiri, melainkan juga mengalihkan perhatiannya ke daerah bagian timur. Dalam tahun 526 M, misalnya, Manikmaya, menantu Suryawarman, mendirikan kerajaan baru di Kendan, daerah Nagreg antara Bandung dan Limbangan, Garut. Putera tokoh Manikmaya ini tinggal bersama kakeknya di ibukota Tarumangara dan kemudian menjadi Panglima Angkatan Perang Tarumanagara. Perkembangan daerah timur menjadi lebih berkembang ketika cicit Manikmaya mendirikan Kerajaan Galuh dalam tahun 612 M.</p>
<p>Tarumanagara sendiri hanya mengalami masa pemerintahan 12 orang raja. Pada tahun 669, Linggawarman, raja Tarumanagara terakhir, digantikan menantunya, Tarusbawa. Linggawarman sendiri mempunyai dua orang puteri, yang sulung bernama Manasih menjadi istri Tarusbawa dari Sunda dan yang kedua bernama Sobakancana menjadi isteri Dapuntahyang Sri Jayanasa pendiri Kerajaan Sriwijaya. Secara otomatis, tahta kekuasaan Tarumanagara jatuh kepada menantunya dari putri sulungnya, yaitu Tarusbawa.</p>
<p>Kekuasaan Tarumanagara berakhir dengan beralihnya tahta kepada Tarusbawa, karena Tarusbawa pribadi lebih menginginkan untuk kembali ke kerajaannya sendiri, yaitu Sunda yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Tarumanagara. Atas pengalihan kekuasaan ke Sunda ini, hanya Galuh yang tidak sepakat dan memutuskan untuk berpisah dari Sunda yang mewarisi wilayah Tarumanagara.</p>
<p><a title="Raja-raja_Tarumanagara_menurut_Naskah_Wangsakerta" name="Raja-raja_Tarumanagara_menurut_Naskah_Wangsakerta" id="Raja-raja_Tarumanagara_menurut_Naskah_Wangsakerta"></a></p>
<h4><span class="editsection"></span><span class="mw-headline">Raja-raja Tarumanagara menurut Naskah Wangsakerta</span></h4>
<ol>
<li>Jayasingawarman 358-38</li>
<li>Dharmayawarman 382-395</li>
<li>Purnawarman 395-434</li>
<li><span class="new">Wisnuwarman</span> 434-455</li>
<li><span class="new">Indrawarman</span> 455-515</li>
<li><span class="new">Candrawarman</span> 515-535</li>
<li>Suryawarman 535-561</li>
<li><span class="new">Kertawarman</span> 561-628</li>
<li><span class="new">Sudhawarman</span> 628-639</li>
<li><span class="new">Hariwangsawarman</span> 639-640</li>
<li><span class="new">Nagajayawarman</span> 640-666</li>
<li>Linggawarman 666-669</li>
</ol>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiadulu.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiadulu.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiadulu.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiadulu.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiadulu.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiadulu.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiadulu.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiadulu.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiadulu.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiadulu.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiadulu.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiadulu.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=7&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/05/31/kerajaan-tarumanagara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9de7c341a6ef6f2cb7002ebf0806056?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia dulu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/05/prasasti-tarumanagara.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">prasasti-tarumanagara.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kerajaan Kutai Martadipura</title>
		<link>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/05/31/kerajaan-kutai-martadipura/</link>
		<comments>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/05/31/kerajaan-kutai-martadipura/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 May 2007 09:07:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>indonesiadulu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Zaman Kerajaan Hindu-Budha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/05/31/kerajaan-kutai-martadipura/</guid>
		<description><![CDATA[Kerajaan Kutai atau Kerajaan Kutai Martadipura (Martapura) merupakan kerajaan Hindu yang berdiri sekitar abad ke-4 Masehi di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Kerajaan ini dibangun oleh Kudungga. Diduga ia belum menganut agama Hindu. Namun putranya, yang kelak menjadi penggantinya, Mulawarman, telah menganut Hindu.
Dalam prasasti Yupa disebutkan bahwa Kudungga lah pendiri kerajaan ini, sehingga ia disebut wamsakarta. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=5&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/05/prasasti-kutai.gif" title="prasasti-kutai.gif"><img src="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/05/prasasti-kutai.gif" alt="prasasti-kutai.gif" /></a><strong>Kerajaan Kutai</strong> atau <strong>Kerajaan Kutai Martadipura</strong> (Martapura) merupakan kerajaan Hindu yang berdiri sekitar abad ke-4 Masehi di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Kerajaan ini dibangun oleh Kudungga. Diduga ia belum menganut agama Hindu. Namun putranya, yang kelak menjadi penggantinya, Mulawarman, telah menganut Hindu.</p>
<p>Dalam prasasti Yupa disebutkan bahwa Kudungga lah pendiri kerajaan ini, sehingga ia disebut wamsakarta. Ia memiliki 3 orang putra, salah satunya bernama Mulawarman. Mulawarman inilah raja termasyur yang pernah menyedekahkan 20.000 ekor lembu kepada para brahmana. Untuk memperingati hal itu, para brahmana mencatatnya dalam Prasasti Yupa.</p>
<p>Pada abad ke 16, kerajaan Hindu tertua di nusantara ini takluk dari Kerajaan Kutai Kartanegara. Dalam peperangan tersebut, Raja Kutai Martadipura terakhir yang bernama Maharaja Dharma Setia tewas di tangan Raja Kutai Kartanegara ke-13, Aji Pangeran Anum Panji Mendapa.</p>
<p>Kerajan Kutai Mulawarman (Martadipura) didirikan oleh pembesar kerajaan Campa (Kamboja) bernama Kudungga, yang selanjutnya menurunkan Raja Asmawarman, Raja Mulawarman, sampai 27 (dua puluh tujuh) generasi Kerajaan Kutai Mulawarman.</p>
<p><strong>Nama-nama Raja Kutai</strong></p>
<ol>
<li>Maharaja Kudungga</li>
<li>Maharaja Asmawarman</li>
<li>Maharaja Mulawarman Nala Dewa</li>
<li>Maharaja Sri Aswawarman</li>
<li>Maharaja Marawijaya Warman</li>
<li>Maharaja Gajayana Warman</li>
<li>Maharaja Tungga Warman</li>
<li>Maharaja Jayanaga Warman</li>
<li>Maharaja Nalasinga Warman</li>
<li>Maharaja Nala Parana Tungga</li>
<li>Maharaja Gadingga Warman Dewa</li>
<li>Maharaja Indra Warman Dewa</li>
<li>Maharaja Sangga Warman Dewa</li>
<li>Maharaja Singa Wargala Warman Dewa</li>
<li>Maharaja Candrawarman</li>
<li>Maharaja Prabu Mula Tungga Dewa</li>
<li>Maharaja Nala Indra Dewa</li>
<li>Maharaja Indra Mulya Warman Dewa</li>
<li>Maharaja Sri Langka Dewa</li>
<li>Maharaja Guna Parana Dewa</li>
<li>Maharaja Wijaya Warman</li>
<li>Maharaja Indra Mulya</li>
<li>Maharaja Sri Aji Dewa</li>
<li>Maharaja Mulia Putera</li>
<li>Maharaja Nala Pandita</li>
<li>Maharaja Indra Paruta Dewa</li>
<li>Maharaja Dharma Setia</li>
</ol>
<p><em>dari berbagai sumber</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/indonesiadulu.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/indonesiadulu.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/indonesiadulu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/indonesiadulu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/indonesiadulu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/indonesiadulu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/indonesiadulu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/indonesiadulu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/indonesiadulu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/indonesiadulu.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/indonesiadulu.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/indonesiadulu.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=indonesiadulu.wordpress.com&blog=1171812&post=5&subd=indonesiadulu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesiadulu.wordpress.com/2007/05/31/kerajaan-kutai-martadipura/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9de7c341a6ef6f2cb7002ebf0806056?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">indonesia dulu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://indonesiadulu.files.wordpress.com/2007/05/prasasti-kutai.gif" medium="image">
			<media:title type="html">prasasti-kutai.gif</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>